Sabtu pagi menghadirkan babak baru bagi fisik Suri. Setelah sampah rumah tangga dibuang, ia mengikat tali sepatunya. Aspal jalanan pagi itu menjadi saksi bisu saat Suri menembus batas kemampuannya: 6,87 kilometer, membentang dari Stasiun Pasar Minggu hingga Stasiun Tebet. Sebuah rekor pribadi yang membuat dadanya bergemuruh hangat. Ia pulang menaiki KRL dengan senyum puas, lalu menghabiskan sisa akhir pekan memboyong anak-anaknya melepas rindu di rumah Mbah di Pancoran.
Namun, pikiran kritis Suri tak pernah benar-benar istirahat. Di sela-sela hening sore, ia merenungkan kebijakan kota yang baru saja ia baca di berita: Jakarta darurat sampah dan Bantar Gebang mulai membatasi alokasi.
Suri mengerutkan dahi. Warga diminta memilah, tapi setelah dipilah, mau dibawa ke mana? Tidak mungkin disimpan di pekarangan rumah sendiri, pikirnya. Bagi Suri, sebuah gagasan tanpa kesiapan infrastruktur dasar hanyalah imbauan mentah yang memindahkan beban ke pundak rakyat kecil.
