Hidung Suri terasa mampat, dan tumpukan tisu bekas di mejanya sudah menggunung. Namun, influenza tak cukup kuat untuk menghentikan riuh kepalanya hari itu. Administrasi di tempat kerja sedang jadi momok hangat. Bagi Suri, birokrasi sering kali seperti labirin, tetapi alih-alih mengeluh, ia memilih berani. Di sesi sosialisasi, Suri melemparkan pertanyaan langsung kepada narasumber, lalu membawa pemahamannya ke kelompok-kelompok kecil guru—baik yang ia kenal dekat maupun yang sekadar berpapasan nama. Ia belajar menepi dari ego, merangkul rekan sejawat demi satu pemahaman yang sama.
Malamnya, perjalanan dari Serpong menuju Pasar Minggu terasa begitu panjang. Jam menunjuk angka sembilan malam saat Suri menyusuri aroma nasi goreng di pinggir jalan, menuntaskan hari pertama yang melelahkan setelah merampungkan tiga reka aksi.
Esoknya, ritme kembali berputar dari heningnya jam empat pagi. Usai sajadah terlipat dan taman kecil di rumah tersiram air, Suri melangkah ke sekolah. Diskusi pembagian ruang kelas berlangsung cukup hangat. Tak berhenti di situ, ia mendampingi rekan gurunya mendata kehadiran hingga urusan administrasi tuntas terkirim. Atas bantuannya, rekan tersebut menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah.
Hari itu ditutup sederhana: seruput kopi FamilyMart, lantunan Al-Kahfi saat Magrib, dan dentang gosokan baju di rumah.
