Hari Senin dibuka dengan kekacauan kecil di lapangan. Tim pengibar bendera tampak belum siap, memaksa Suri turun tangan hingga tiga kali merapikan barisan. Di jam-jam kosong, ia berpacu dengan waktu menuntaskan administrasi kinerja, menyusun modul anak berkebutuhan khusus dengan bantuan jin moderent (AI), dan mengajar IPAS hingga lupa waktu.
Kabar kurang menyenangkan bertiup saat briefing sore. Predikat penilaian kinerja bagi para PNS mendadak berada "di bawah ekspektasi". Suri tercengang saat mengecek grup percakapan beberapa rekan di sekolah lain bisa mengantongi nilai di atas 80 hingga 100. Merasa ada yang tidak beres pada penempatan poin oleh pimpinan, Suri bergerak cepat. Ia mengontak rekan kerjanya, menggali fakta hingga menemukan benang merah yang harus diperbaiki bersama rekan-rekannya.
Sore itu, Suri menyentuh rahang bawahnya. Gigi belakangnya terasa ngilu ada bagian yang patah dan retak, bergoyang pelan ditahan gusi. Seperti dinamika pekerjaan dan riuhnya sistem yang sedang ia jalani, ada hal-hal yang retak dan tidak nyaman, namun Suri tahu ia harus tetap berdiri tegap menuntaskannya satu per satu.
