Pagi MPLS dimulai dengan baju gelap tanpa emblem dan kehangatan oleh-oleh haji dari ibunya yang dibagikan di ruang guru. Sebagai tim dokumentasi sekaligus wali kelas, Suri bergerak cepat. Kamera ponselnya merekam momen demi momen di lapangan, sebelum ia beralih ke kelas untuk mencairkan suasana menggunakan spinwheel. Tanda tangan Deklarasi Sekolah Ramah Anak tuntas, diikuti pengisian Google Form dan analisis gaya belajar murid.
Di sekolah ini, momentum jumat mengaji atau kegiatan edukasi satwa kerap membuat jam pelajaran terpotong. Guru-guru lain mungkin bersorak karena jam mengajar berkurang, tetapi tidak bagi Suri. Ia menyukai keteraturan alur belajar yang sudah ia rancang.
Meski begitu, ruang guru selalu punya cara untuk menghiburnya. Usai Sholat Jumat, Suri duduk di selasar belakang bersama dua senior. Percakapan mengalir dalam, jauh dari riuh birokrasi sekolah. Mereka berbicara tentang siklus hidup manusia.
"Usia lima puluh itu fase berdamai, Suri. Tempat kita menilai seluruh perjalanan," ujar senior pertamaperlahan. Senior kedua mengangguk, "Tak ada pilihan lain, karena semua masa muda sudah lewat."
Suri menyerap setiap kalimat itu. Berdiskusi tentang makna kehidupan bersama kawan-kawan senior terasa jauh lebih menyejukkan daripada mendengarkan arahan atasan yang kerap melantur tanpa arah.
