Di antara deretan berkas Kurikulum Merdeka dan riuk kelas, Suri selalu menyelipkan rutinitas yang ia sebut "aktivitas paripurna". Pagi-pagi sekali, ia menyiram tanaman, meminum kopi, lalu berdiri tegak di gerbang sekolah menyapa anak-anak sebelum upacara. Kelasnya tak pernah membosankan. Hari itu, ia melatih fokus murid lewat cerita bersambung; yang hilang konsentrasi, bersiap mendapat tugas piket.
Namun, tantangan sebenarnya kerap muncul dari luar kelas. Dalam rapat koordinasi field trip ke Kota Tua, Kepala Sekolah tiba-tiba melimpahkan kepemimpinan diskusi kepadanya. Suri mengelus dada. Ada kejengkolan yang tertahan atas manajemen waktu sang pimpinan, tetapi Suri memilih tenang listen, wait, and see. Di depan komite dan wali murid yang berargumen soal makan siang anak-anak, Suri menavigasi forum hingga mencapai titik temu tanpa gejolak.
Guna memastikan semua berjalan lancar, Suri dan Gus Yakub menyusuri rute armada publik: Jaklingko, KRL, hingga TransJakarta menuju Museum BI. Di sela kelelahan survei, mereka menikmati Roti O hasil penukaran voucer TikTok.
Perjalanan hari-hari itu dipenuhi spektrum emosi yang kontras. Saat melintas jalan raya, mata Suri menangkap sosok ibu yang menangis sambil menggendong anak di bawah terik. Banyak kendaraan melintas begitu saja. Suri memutar balik motornya, menyodorkan lembaran uang lima puluh ribu, lalu berdoa dalam hati agar beban ibu itu terangkat. Namun di malam lain, saat mengantre pangkas rambut, ketenangannya sempat diuji oleh ulah anak SMA sok jagoan yang menduduki motornya tanpa izin. Suri menegurnya tegas, menahan emosi, hingga akhirnya tertidur lelah di kursi potong rambut.
