uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

Santai itu bukan malas


Santai saja guys, tapi jangan malas. Halo para pembaca cer-dik.com pada artikel ini kita akan mebahas santai tentang orang-orang santai. Apakah sama santai dengan malas? Karena tidak dipungkiri banyak orang yang menyamakan santai dengan malas. Tapi apa benar dua kata ini sama maknanya.

Malas

Orang malas adalah pribadi yang suka menunda-nunda pekerjaan yang bisa dikerja pada saat itu. Penundaan tersebut berdampak pada kualitas kerja. Lebih dari itu orang malas sering tidak dapat mengatur waktunya dengan baik. Dan berakhir dengan pengerjaan yang ugal-ugalan.

Contoh sederhana, anak yang malas mengerjakan pekerjaan rumah di malam hari. Tentu akan ngebut dan terburu-buru mengerjakan tugas-tugasnya pada pagi hari. Bahkan dikerjakan di kelas. Hasil dari pengerjaannyapun sangat-sangat tidak memuaskan. Bukan hanya asal-asalan, bahkan ia mencontek hasil kerja teman sekelasnya. Dan sangat mungkin ia tidak mengerti apa yang ia sedang kerjakan.

Malas bisa dianggap sebagai sumber kejahatan sosial yang hari ini banyak diperbincangkan di media-media. Malas adalah penyakit individu yang berdampak pada kejahatan interaksi sosial. Orang yang malas sebagaimana disampaikan pada penjelasan sebelum. Tentu tidak akan memiliki kualitas yang sama dengan orang yang tidak malas.

Rendahnya kualitas diri tentu akan membuatnya tersisih dari kompetisi sosial. Ketika ia tidak mendapatkan akses yang baik secara ekonomi maupun informasi. Maka malas menjadi alat penyelesaian dan menjadi pilihan pintas. Hingga munculkan copet, todong, dan lain sebagainya. Malas adalah mula dari lingkaran setan sosial. Malas membuat kita kurang pintar, kurang pintar menyebabkan kita kurang akses, kurang akses menyebabkan kita kurang pendapatan (kurang kaya), kurang pendapatan merupakan motif mayor kriminalitas sosial sebagaimana pencuri dan koruptor.

Santai

Lalu apa beda malas dengan santai. Karena pada umum kita melihat keduanya sering berleha-leha seolah tidak ada tekanan. Santai itu rilexs, menanggapi dengan tenang. Menyelesaikan dengan kepala dingin dan hati yang jernih.

Santai itu menikmati keadaan. Orang yang santai akan merencanakan perjalanannya dengan baik. Menghitung dan mengantisipasi kendala atau rintangan yang muncul. Menimbang segala resiko, memiliki time line dan antisipasi dari keputusan dari setiap tantangan. Dari kesiapan ini maka yang muncul adalah ekspresi tenang yang diartikan sebagai “Santai”.

Cara membedakan orang santai dan orang malas adalah kesiapan. Kesiapan dapat dilihat dari kesigapan dan kelengkapan kebutuhan. Orang malas tentu tidak menyiapkan apa-apa. Bagai pendaki konyol ke puncak Everest yang hanya bermodalkan jaket setipis jas hujan dengan alasan berat bawa kelengkapan yang lain-lain.


Related Posts
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di SDN Cipinang Besar Selatan 08 Pagi. Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment