uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

Ku temui diriku di pusaran



Namaku Paijo. Aku tinggal di daerah Pasar Minggu. Daerah padat penduduk dan sangat sibuk. Rumahku kebetulan sangat dekat dengan stasiun dan terminal. Apalagi dengan sungai legendaris kota Jakarta yaitu Kali Ciliwung. Aku seorang pengemudi Ojol. Aku kadang mangkal dan antar penumpang di sekitar stasiun. Karena di mana ada keramaian, di situ banyak rejeki. Begitu kata pepatah.

Mataku suka terjaga pukul 03.30, pertanda Tuhan mengisyaratkanku untuk bermenung dan bermunajat. Di waktu sepi itu, aku rekatkan doa pada Sang Kuasa agar dimudahkan rejekiku. Didukung istriku yang sedang berbadan dua. Tentu butuh kucuran dana buat biaya bersalin. Banyak doa yang kuminta tapi secara garis besar kesemuanya adalah agar mudah rejekiku. Perkara urusan rohani sudah beres, biasanya aku lekas mandi untuk menyegarkan badan dan bergegas ke masjid An-Nur dekat rumahku ketika azan subuh berkumandang. Setelah sholat, aku bersalin dengan seragam Ojolku. Satu identitas dan entitas yang harus melekat di badanku. Padahal aku lulusan S1 pendidikan, namun sekarang di sekolah negeri tidak terima lowongan yang bukan Aparatur Sipil Negara. Sementara sekolah swasta harus jago bahasa Inggris. Alih-alih bisa bahasa Inggris, lidahku selalu kepeletot kalau baca tulisan bahasa global itu. Yowes aku pilih usaha jadi driver Ojol aja, setelah lulus dan menikah.

Pelanggan pertamaku di pagi hari namanya Mbak Santi. Ia seorang karyawati yang berkantor di kota. Mbak Santi sudah lama langganan ojek dengan ku. Bayarannya perbulan 200 ribu untuk mengantarkannya ke Stasiun Pasar Minggu. Setelah mengantar Mbak Santi, aku juga harus mengantar Agung, anak Bu RT untuk berangkat ke sekolah. Kebetulan juga Bu RT menyewa jasa ku dan dibayar perbulan 100 ribu. Alhamdulillah, itung-itung rejeki si jabang bayi. Setelah Agung ku antar, tiba saatnya untuk sekedar beres-beres rumah dan sarapan. Dari pukul 08.00 sampai 12.00 aku mencari penumpang via aplikasi. Berlomba dengan driver Ojol yang lain dengan kekuatan sinyal dan keberuntungan. Biasanya aku menunggu sambil pantau aplikasi di warkop Mas Kumis, dekat Stasiun Pasar Minggu Baru.

Tanggal 2 Januari 2020 setelah banjir besar yang menyibukkan warga Jakarta termasuk aku, berita-berita di tv juga menyiarkan munculnya virus di kota Wuhan negara China. Virus ini mematikan dan masih belum ada penangkalnya. Namun berita itu tak begitu dihiraukan karena banjir Jakarta lebih terasa. Pada Februari negara tetangga Indonesia dimulai dari Malaysia, Singapura, Australia sudah mengumumkan ada warga positif terkena virus tersebut. Tindakan cepat langsung diambil oleh pemerintah mereka.

Di bulan yang sama, badan Kesehatan PBB mencurigai ada warga negara Indonesia yang sudah terkena virus Wuhan itu. Tapi untunglah para Menteri dan Presiden bilang kita tidak mungkin kena karena faktor cuaca yang cukup panas. Hingga sampai hari ini aku dan kawan-kawanku masih bisa mencari nafkah untuk keluarga kami.

Pada tanggal 28 Februari. Aku seperti bisanya “mangkal” di warkop Mas Kumis sambil menunggu orderan. Siang itu, pukul 11.00 aku mendapatkan orderan untuk mengantarkan makanan ke bilangan Depok. Tanpa berpikir panjang aku “eksekusi” orderan tersebut. Pelanggan tersebut memesan pizza dari salah satu outlet pizza terkenal di daerah Margonda.

Tanggal 1 Maret, mulai muncul desas-desus virus dari Wuhan yang diketahui bernama Corona sudah masuk Indonesia. Banyak berita yang menyiarkan, katanya ada orang yang gejalanya mirip dan sedang diperiksa di Bandung. Namun setelah diperiksa hasilnya negatif. Syukurlah! Satu hari setelahnya adalah awal mimpi buruk bagiku dan bagi Indonesia. Jaminan para menteri yang bilang Corona tidak akan sampai ke Indonesia akhirnya jebol juga. Presiden mengumumkan bahwa ada satu orang yang positif Corona di daerah Depok. Katanya ia tertular sehabis berdansa dengan orang Jepang. Pertemuan mereka di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Namun pemerintah tidak mengungkapkan identitas perempuan itu. Aku menjadi cukup khawatir dengan hal ini. Karena baru 3 hari yang lalu aku berkunjung ke daerah Depok. Hari berganti hari, aku mulai parno dengan kesehatan diriku. Memang sejak lama aku sudah batuk-batuk karena aku adalah seorang perokok dan dulu juga pernah menderita TB (penyakit paru-paru). Namun karena banyak artikel yang mengatakan bahwa tanda awal dari virus ini adalah batuk maka jadilah aku dibuat sangat paranoid dengan hal ini.

Seminggu kemudian beredar foto dan tulisan di media sosial dari seorang perempuan yang mengaku sebagai pasien positif pertama Corona. Untunglah bukan orang yang memesan pizza waktu itu. Namun yang bikin mengejutkan, tiba-tiba ada kabar kalau salah seorang temanku “Goan” yang juga driver Ojol jatuh sakit. Dia juga seorang pecandu rokok hingga baginya batuk adalah hal yang wajar. Lantas dengan cepat aku menjenguknya dan menanyakan apa sudah diperiksa ke dokter. Karena aku tau dia memiliki riwayat penyakit TB sama sepertiku. “Sudah, tapi lo tau sendirikan kalau BPJS pasti lama,” kira-kira begitulah katanya. Lantaran karena kami termasuk golongan ekonomi kelas pinggiran kali dan sangat butuh layanan ini. Kalaupun protes, yang ada malah digonggong balik. Penyakit Goan makin parah. Hingga satu minggu kemudian, nyawanya dikabarkan telah melayang. Yang aku tahu dia meninggal karena sakit TB.

Teror ini masih terus menghantui. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat terus berpikir dan mencari solusi. Dimulai dari membeli Alat Perlindungan Diri dari Cina dan Rapid test yang ternyata alat tersebut tulalit untuk tes Corona. Di tv seantero Indonesia, semua kompak menyiarkan tentang penyebab virus ini dengan cepat. Sejak tanggal 17 Maret 2020, Jakarta resmi buat pengumuman sekolah di rumah masing-masing. Di pasar-pasar orang panik borong belanjaan. Orang-orang kaya repot beli APD untuk dipakai pribadi, walaupun hanya ke Lotte Mart. Pemerintah membuat gugus tugas tapi sampai sekarang masih ada menteri yang sibuk dan ngotot soal investasi. Semua amburadul. Korban terus berjatuhan, semua lapisan masyarakat panik tapi aku bingung mau buat apa. Lagi-lagi karena aku hanya driver Ojol yang tak punya kuasa.

Pemerintah mengimbau harus di rumah, tapi aku mikir, “Anak dan istri kita mau dikasih makan apa?” Terpaksa aku dan kawan-kawan yang hari ini ditakdirkan menjadi Ojol harus tetap di jalan. Bulan April pemerintah pusat buat terobosan dan bekerja sama dengan pemerintah daerah. Negara menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Polisi yang tadinya cuma bisa mengimbau, kini merangkap menertibkan pengendara mesin berjalan, termasuk kepada aku dan kawan-kawan yang lagi beradu dengan terik untuk mencari makan.

Tanggal 24 April bertepatan dengan 1 Ramadhan. Ada orang yang datang ke rumah Goan. Katanya istri dari tim gugus Covid. Mereka izin menyampaikan, “Bisa jadi Goan terkena Corona!” Karena setelah ditelusuri Goan pernah ke Depok tempat pasien pertama Corona terdeteksi. Tim itu juga mengetes istri dan anak-anak Goan. Seisi rumah dan semua tetangganya diperiksa. Istrinya dinyatakan positif. Tambah lesu aku. Tanggal 30 April setelah sholat Isya, tim berseragam putih-putih mengetuk pintu rumahku. Dan menanyakan apa aku kenal Goan? Apa pernah ke rumahnya waktu sakit? Semua ku jawab, “Iya.” Lalu aku dites. Petugas memasukkan alat dari hidungku sampai tenggorokan. Bukan hanya aku tapi istri dan anak-anakku. 15 menit kemudian aku dinyatakan positif. Istri juga, namun anak dan tetanggaku semua negatif. Alhamdulillah. Aku dibawa ke rumah sakit dengan pengawalan khusus. Bagai pejabat yang menggiringku di jalan-jalan pada hari biasa. Bunyi sirine kencang membuat kupingku ikut berdendang

Saat di rumah sakit, setiap petugas dengan seragam yang sama mengecek kesehatanku. Katanya semua normal dan aku masih harus tetap di isolasi. Hari-hari di ruang isolasi penuh dengan kecemasan. “Siapa yang merawat anakku?” “Bagaimana kabar istriku yang juga di isolasi?”, refleks dari benakku. Melasnya, pulsaku kebetulan habis. Kutanyakan saja kabar mereka pada petugas jaga yang lewat di depan kamarku. Satu hari kemudian, dia bilang semua dalam penanganan pemerintah, syukurlah. Setiap harinya pemandanganku hanya wajah langit tak menentu di luar gedung. Sesekali aku baca buku yang sudah disediakan di ruang isolasi.

Tanggal 20 Mei, mulai tercium aroma sayur ketupat dan rendang, ya, sebentar lagi lebaran. Aku teringat gigi ompong dan riak anak-anakku yang bergumul di kepalaku setiap hari. Malam itu sunyi sekali. Tiba-tiba dadaku nyeri, memang kadang penyakit TBku kambuh. Seketika ku gedor pintu kamarku, berharap ada petugas yang sadar. Karena semakin sesak aku rasakan. Tak lama semua menjadi hitam…

Seketika ku buka mata, kabel selang dan semua yang tak ku tau menempel di dadaku. Ada alat yang selalu berbunyi, tiiiit… tiiiit… tiiiit. Udara begitu segar saat itu. Petugas berbaju putih melambaikan tangan tepat di depan wajahku. Aku mengangguk sebagai bentuk balas sapaan. Namun rasanya ngantuk betul.

Tanggal 24 Mei, tepat di saat 1 Syawal dimana orang-orang beragama Islam merayakan hari kemenangan. Sayup terdengar tak ada pasien baru yang terjangkit virus. Virus berhasil dihentikan. Aku dibangunkan istri yang menjemputku. Tubuh kami dibalut pakaian baru khas lebaran, putih sedikit mencolok. Ia mengajakku pulang menemui anak-anak kami. Dengan senang aku bangun dari tempat tidur. Tanpa pikir panjang aku ikut dengannya. Ternyata selama kami di isolasi, anak-anak dirawat neneknya. Senyumku merekah ketika melihat mereka begitu riang dan makin tambun. Mereka pergi dengan neneknya ke suatu tempat. Aku tak ingin menunjukkan diri. Aku berharap dapat memberikan kejutan di waktu kepulanganku pada mereka di hari yang fitri ini. Dengan langkah ringan, ku ikuti mereka terus menuju tempat yang tak asing bagiku. Rimbun dan lapang. Terlihat gundukan tanah seperti sebuah makam. Tanahnya masih baru. Aku perhatikan mereka dari jauh. Anakku menangis di depannya. Ku coba hampiri mereka, namun betapa terkejutnya aku. Di papan nisan yang tertulis di makam itu adalah namaku, Paijo bin Haji Baijan.
Newest Older
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di sekolah dasar Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment