uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

Tetes Air Terakhir dan Drama Selembar Survei

Pagi itu dimulai dengan kemalasan yang paripurna. Suri sengaja mengulur waktu di bawah selimut, membiarkan istrinya memenangi antrean kamar mandi lebih dulu. Efek dominonya jelas ritual Sholat Tahajud dan ngaji pagi terpaksa digeser oleh kepungan waktu. Usai meneguk segelas teh madu, meneteskan minyak khusus untuk meredam kerontokan rambutnya yang kian menjadi-jadi, Suri mengecek isi tas lalu membelah jalanan pukul 05.40.

Di sepanjang jalan, aspal tampak basah memikat. Aneh, batin Suri. Sudah lebih dari dua minggu langit tak setetes pun menyumbang air, tetapi kenapa jalanan ini tampak seperti baru disiram gerimis berkah? Teori konspirasi kecilnya baru terjawab siang nanti: jalanan itu rupanya disiram mendadak hanya karena Bapak Gubernur yang terhormat sedang sudi berkunjung ke RW sebelah rumahnya. Sungguh sebuah penyiraman yang amat strategis.

Sesampainya di sekolah, Suri langsung dihadapkan pada panggung kecil bernama upacara bendera. Fai, murid yang dijadwalkan membaca Ikrar Hidup Bersih, mendadak gaib tanpa kabar. Beruntung ada Eka, si murid serba bisa yang siap ditaruh di posisi mana pun bagai pemain pengganti serba guna.

Usai barisan dibubarkan, Suri memoles harinya dengan membagikan nilai Ulangan Harian Seni Rupa, menikmati sesuap batagor diiringi seruput kopi, lalu merancang lembar Pencapaian Ku untuk anak-anak. Sebelum masuk ke Sumatif II IPAS materi sistem pencernaan, Suri meminta para murid menggambar diri mereka sendiri untuk ditempel di papan pencapaian. Jam mengajar berlanjut ke Bahasa Indonesia—menganalisis variasi kata dalam teks eksplanasi—hingga bel pukul 11.40 berdentang.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai tepat setelah kelas berakhir. Anak-anak kini tak cuma harus meratapi tiadanya program makan gratis, tetapi juga diimbau untuk Sholat Dhuhur di rumah masing-masing. Alasan BOS sungguh mulia dan visioner: demi menghemat air sekolah. Sungguh sebuah terobosan manajemen sumber daya yang patut masuk rekor.

Pukul 12.15, Suri turun untuk mencetak poster piket dan jadwal pelajaran. Belum sempat tintanya kering, pada pukul 12.50, BOS mendadak mencegatnya di depan printer. Tanpa mukadimah, Suri langsung "ditodong" untuk mengisi survei penggunaan IPD.

"Iya, Bu, tapi saya izin istirahat, makan, dan sholat dulu," ujar Suri berusaha menawar secara sopan.

Seusai menuntaskan hak cerna dan ibadahnya, Suri duduk di hadapan layar untuk menyelesaikan survei tersebut. Di situlah puncak komedianya terungkap. Dengan wajah tanpa dosa, BOS baru menyadari bahwa staf-staf yang sebenarnya secara resmi ditunjuk di dalam SK ternyata tidak ada yang mengerjakan tugas tersebut. Lebih ajaibnya lagi, Suri”yang namanya sama sekali tidak tercantum di dalam Surat Keputusan”malah dibebani untuk menyelesaikan tugas pribadi sang BOS sendiri. Sang pimpinan menyuruh seolah-olah dunia berputar sesuai suasana hatinya saat itu.

Suri menghela napas panjang, menatap layar monitor dengan senyum getir.

Related Posts
Newest Older
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di sekolah dasar Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment