Nilai Tinggi, Nalar Rendah
Dulu, banyak orang tua pulang dari pembagian rapor dengan dada membusung. Nilai anaknya tinggi. Ranking aman. Tidak pernah tinggal kelas. Bahkan beberapa sudah percaya diri berkata, “Anak saya mah masuk negeri gampang.” Kalimat itu meluncur ringan seperti daun jatuh. Tidak ada rasa khawatir. Tidak ada rasa perlu mengevaluasi proses belajar anak di rumah. Yang penting angka di rapor aman, foto wisuda estetik, lalu lanjut upload story bertuliskan proud parent.
Lalu datanglah TKA.
Dan mendadak banyak yang bingung. Kok nilai anak saya begini? Kok soal cerita saja susah? Kok narasi panjang bikin anak menyerah sebelum membaca titik terakhir? Bukankah selama ini nilainya bagus?
Nah, di sinilah tamparannya mulai terasa.
Banyak orang tua terlalu lama percaya bahwa nilai tinggi identik dengan kemampuan berpikir tinggi. Padahal di balik angka-angka rapi itu, ada sistem pendidikan yang sejak lama dipaksa menjaga “kenyamanan.” Sekolah tidak boleh terlalu banyak memberi nilai rendah. Guru harus memikirkan psikologis anak. Tidak naik kelas dianggap kegagalan sekolah. Akhirnya lahirlah generasi yang naik terus seperti eskalator mall: diam pun tetap sampai lantai atas.
Yang ironis, ketika sampai di ujian yang lebih jujur seperti TKA, baru kelihatan mana yang benar-benar memahami, mana yang selama ini hanya selamat karena sistem.
Anak-anak terbiasa mengerjakan soal pendek, langsung jawab, tinggal pilih huruf. Begitu bertemu soal narasi yang menuntut membaca, menganalisis, lalu menyimpulkan, otaknya seperti loading sinyal E di tengah sawah. Baru dua paragraf sudah bilang, “Bu, pusing.” Padahal hidup nanti tidak memberi soal pilihan ganda.
Yang lebih menarik, sebagian orang tua marah ke sekolah. Seolah guru adalah teknisi bengkel yang gagal menyetel mesin. Padahal selama bertahun-tahun banyak orang tua terlalu sibuk memastikan anak bahagia, tapi lupa memastikan anak tahan menghadapi kesulitan. Anak sedikit stres belajar langsung dianggap tertekan. Anak tidak bisa langsung dicap “gak berbakat di situ.” Anak menangis saat gagal sedikit, semua panik seperti kiamat akademik baru saja turun di ruang tamu.
Lahirlah generasi yang oleh guru diam-diam sering disebut generasi ABK: AmBekan. Sedikit sulit menyerah. Sedikit ditegur ngambek. Sedikit salah langsung kehilangan semangat hidup. Ironisnya, mereka hidup di zaman paling mudah mencari jawaban, tapi paling lemah bertahan mencari solusi.
Guru pun serba salah. Diminta mengajar dengan ramah, kreatif, inovatif, diferensiasi, mindful, joyful, deep learning, project based learning, dan entah learning-learning lainnya. Guru disuruh memahami bahwa setiap anak punya bakat berbeda. Tapi masalahnya, sebagian orang tua salah menerjemahkan kalimat itu. Mereka ingin anaknya “berbakat” tanpa proses jatuh bangun. Seolah bakat itu aplikasi bawaan lahir yang tinggal diaktifkan.
Padahal kemampuan menyelesaikan masalah tidak muncul dari pujian terus-menerus. Ia lahir dari latihan, dari gagal, dari mencoba lagi, dari membaca soal yang bikin dahi berkerut lalu tetap bertahan menyelesaikannya.
Sekolah akhirnya menjadi panggung sandiwara besar bernama “semua anak hebat.” Semua naik kelas. Semua diberi tepuk tangan. Semua diberi sertifikat. Tapi ketika dunia nyata mulai bertanya lewat soal-soal bernalar, banyak yang mendadak diam.
TKA akhirnya bukan cuma menguji murid. Ia juga menguji ilusi para orang tua. Bahwa selama ini mungkin yang tinggi bukan kemampuan anaknya, melainkan ekspektasi yang dibungkus nilai rapor.
Dan mungkin inilah saatnya kita jujur. Anak tidak butuh dipuji sebagai paling pintar setiap hari. Anak lebih butuh diajarkan cara bertahan ketika merasa bodoh, bingung, dan gagal. Karena hidup setelah sekolah nanti jauh lebih panjang daripada sekadar angka di lembar ujian.
