uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

Kami Tidak Kekurangan Orang, Kami Kekurangan Arah


Di dunia kerja, katanya yang penting bukan siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling seirama. Irama itu butuh dirigen. Tanpa dirigen, semua orang tetap sibuk hanya saja tidak jelas sedang memainkan lagu apa. Anehnya, kita sering merasa sudah “dewasa” dan “berkesadaran tinggi”, seolah-olah semua orang otomatis tahu kapan harus masuk, kapan harus diam, dan kapan harus berhenti. Padahal kenyataannya, yang tersisa sering kali hanya… kemauan. Dan kemauan tanpa arah, ya seperti kompas tanpa utara.

Di ruang-ruang kerja yang penuh jargon motivasi, kita diajarkan bahwa setiap orang punya motivasi intrinsik. Ada yang bersemangat karena tantangan baru, ada yang nyaman dengan ritme yang stabil. Namun ada juga tipe yang paling unik: penikmat status quo. Mereka tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi, tapi juga tidak tertarik untuk mencari tahu. Bukan untuk berdiskusi, bukan untuk memperjelas, tapi cukup untuk membiarkan kebingungan itu hidup dipelihara seperti tanaman hias, disiram setiap hari dengan kalimat, “nanti juga jelas sendiri.”

Dua tahun terakhir, saya hidup di dalam orkestrasi tanpa dirigen. Kepala sekolah berstatus pelaksana tugas, tapi tugas yang mana, tidak selalu jelas. Informasi datang seperti bis kota kadang berhenti, kadang ngebut, kadang tidak datang sama sekali. Sebagai guru, saya tidak hanya mengajar, tapi juga belajar menebak arah angin. Sedikit seperti pendekar silat, tapi bukan melawan lawan, melainkan melawan kemungkinan. Setiap keputusan terasa seperti menangkis pukulan yang belum tentu benar-benar ada.

Dulu, waktu kuliah, saya punya prinsip sederhana: “Aku bingung maka aku berpikir.” Kebingungan itu sehat, katanya. Ia mendorong kita ke perpustakaan, membuka buku, berdiskusi, mencari makna. Tapi di dunia kerja, prinsip itu berubah bentuk. “Aku bingung maka aku… ikut bingung.” Tidak ada perpustakaan, tidak ada forum, yang ada hanya lorong panjang dengan pintu-pintu setengah terbuka dan suara samar dari dalam, “sudah, biarin saja.”

Kalimat “sudah, biarin saja kalau lupa” adalah bentuk paling halus dari penundaan yang disepakati bersama. Ia terdengar sederhana, tapi efeknya seperti bom waktu. Ia tidak meledak sekarang, tapi nanti tepat ketika semua orang sedang sibuk. Dan ketika itu terjadi, kita akan panik bersama, seolah-olah lupa bahwa bom itu kita sendiri yang merakitnya.

Masalahnya bukan pada tidak adanya solusi. Masalahnya adalah ketika orang yang punya otoritas untuk menyelesaikan justru ikut menikmati kebingungan itu. Seolah-olah status quo adalah tempat paling aman. Tidak perlu mengambil risiko, tidak perlu salah, cukup diam dan biarkan waktu yang bekerja. Padahal waktu tidak pernah bekerja untuk kebingungan. Ia hanya memperbesar dampaknya.

Dan puncaknya selalu sama. Pekerjaan datang bersamaan, menumpuk tanpa aba-aba. Semua orang tiba-tiba sibuk. Semua orang tiba-tiba tahu apa yang harus dilakukan atau setidaknya berpura-pura tahu. Sementara saya berdiri di sudut ruangan, menyadari satu hal: saya tidak pernah diajak dalam “kerja bakti” itu. Tidak ada koordinasi, tidak ada pembagian peran. Saya ditinggal sendiri, dengan satu pertanyaan sederhana: harus mulai dari mana?

Mungkin ini bukan tentang kurangnya kemampuan. Bukan juga tentang kurangnya orang. Ini tentang arah yang tidak pernah benar-benar ditunjukkan. Kita terlalu lama menganggap bahwa semua orang akan “mengerti sendiri”, sampai lupa bahwa memahami itu juga butuh dipandu.

Dan pada akhirnya, yang tersisa memang hanya kemauan. Tapi kemauan tanpa arah tidak pernah cukup. Ia hanya membuat kita terus bergerak tanpa benar-benar sampai ke mana pun.

Related Posts
Newest Older
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di sekolah dasar Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment