uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

Ketika Silaturahmi Punya Tarif Bulanan

Arisan Persahabatan

Di sebuah kampung yang hangat dengan senyum dan sapa, ada satu tradisi yang katanya mempererat persahabatan: arisan. Sebuah forum mulia, tempat orang berkumpul, bercengkerama, dan—tentu saja—menyetor iuran dengan penuh cinta.

Konon, arisan adalah simbol kebersamaan. Tapi belakangan, ia juga menjelma menjadi semacam “paket langganan sosial”. Bedanya dengan layanan streaming, arisan tidak bisa di-unsubscribe begitu saja tanpa risiko kehilangan teman.

Persahabatan dengan Sistem Cicilan

Bayangkan seorang bapak, sebut saja Pak Darto. Ia bekerja sendiri, penghasilannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Istrinya seorang ibu rumah tangga, yang setiap hari berjibaku dengan urusan domestik tanpa slip gaji bulanan.

Di atas kertas, keuangan keluarga ini sederhana: pemasukan satu pintu, pengeluaran banyak pintu.

Lalu datanglah undangan arisan.

Awalnya terdengar ringan. “Ah, cuma sekian ribu per bulan,” kata seorang teman. Tapi seperti promo yang sering kita temui, angka kecil itu ternyata punya banyak saudara: arisan RT, arisan keluarga, arisan sekolah anak, bahkan arisan alumni yang entah kapan terakhir bertemu.

Tanpa disadari, Pak Darto tidak hanya bekerja untuk keluarga, tapi juga untuk menjaga status keanggotaannya dalam lingkaran pertemanan.

Antara Tidak Enak dan Tidak Mampu

Di sinilah dilema itu bermula. Menolak arisan sering kali dianggap sebagai bentuk “menarik diri dari pergaulan”. Ikut arisan, di sisi lain, berarti harus menyisihkan uang yang sebenarnya sudah punya pos sendiri: beras, listrik, uang sekolah, dan kebutuhan tak terduga.

Maka lahirlah keputusan-keputusan kecil yang penuh tekanan:

  • Mengurangi kebutuhan pribadi
  • Menunda membeli sesuatu yang penting
  • Atau, dalam beberapa kasus, “mengakali” keuangan agar tetap terlihat baik-baik saja

Semua demi satu hal: tetap dianggap bagian dari kelompok.

Karena di masyarakat kita, “tidak ikut arisan” kadang lebih berat konsekuensinya daripada “tidak punya uang”.

Arisan, Dari Solidaritas ke Simbol Status

Dulu, arisan hadir sebagai bentuk gotong royong. Ia membantu orang mengumpulkan dana secara bergiliran. Ada nilai solidaritas di sana.

Namun kini, di beberapa tempat, arisan mulai mengalami “evolusi sosial”. Ia bukan lagi sekadar alat bantu keuangan, tapi juga panggung eksistensi. Tempat menunjukkan kemampuan, gaya hidup, bahkan—secara halus—kelas sosial.

Pertemuan arisan tak lagi cukup dengan teh hangat dan gorengan. Ada standar tak tertulis yang harus dijaga. Dan seperti semua standar sosial, ia jarang berpihak pada mereka yang penghasilannya pas-pasan.

Satire yang Diam-diam Menyentil

Lucunya, arisan sering disebut sebagai cara mempererat silaturahmi. Tapi bagi sebagian orang, ia justru menjadi sumber kecemasan.

Bukan karena tidak suka berkumpul, tapi karena biaya untuk “tetap bersama” terasa semakin mahal.

Seolah-olah, persahabatan kini punya harga:

  • Sekian rupiah untuk tetap dianggap akrab
  • Sekian rupiah untuk tetap diundang
  • Sekian rupiah untuk tidak menjadi bahan pembicaraan

Dan di tengah semua itu, Pak Darto hanya ingin satu hal sederhana: berteman tanpa harus menghitung sisa saldo.

Menata Ulang Makna Kebersamaan

Mungkin yang perlu kita renungkan bukan soal arisannya, tapi makna di baliknya.

Apakah kebersamaan harus selalu dibungkus dengan iuran?
Apakah persahabatan perlu diverifikasi melalui kemampuan finansial?
Dan yang paling penting: apakah kita tanpa sadar sedang membuat orang lain merasa “terlalu mahal” untuk sekadar berteman?

Satire ini mungkin terdengar ringan, tapi realitasnya tidak selalu demikian.

Karena di balik senyum saat undian arisan dibuka, bisa saja ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung: bulan depan masih sanggup ikut… atau harus mulai belajar menghilang secara perlahan.


Epilog

Persahabatan seharusnya menjadi ruang nyaman, bukan beban tambahan. Jika kebersamaan mulai terasa seperti kewajiban finansial, mungkin sudah saatnya kita meninjau ulang cara kita memaknainya.

Karena idealnya, teman tidak datang dengan tagihan.

Dan silaturahmi, semestinya tidak perlu dibayar dengan cicilan.


Related Posts
Newest Older
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di sekolah dasar Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment