Dulu orang takut ketinggalan kereta.
Sekarang orang takut ketinggalan tren.
Hari ini teman upload foto nongkrong di coffee shop estetik, besok langsung muncul keinginan, “Kayaknya hidup gue kurang menarik.”
Hari ini ada orang pamer kerja remote di Bali, besok muncul cita-cita baru: resign sebelum punya pekerjaan tetap.
Selamat datang di era FOMO dan YOLO.
Dua istilah yang terdengar keren, modern, dan penuh semangat hidup. Padahal kalau dibedah lebih dalam, kadang isinya cuma kecemasan yang diberi filter Instagram.
Apa Itu FOMO dan YOLO?
FOMO (Fear of Missing Out) adalah ketakutan tertinggal sesuatu.
Takut tidak ikut tren.
Takut tidak dianggap gaul.
Takut tidak relevan.
Sementara YOLO (You Only Live Once) adalah slogan kehidupan yang intinya:
“Udah, gas aja. Hidup cuma sekali.”
Masalahnya, banyak orang memakai YOLO bukan untuk menikmati hidup dengan bijak, tapi untuk membenarkan keputusan impulsif.
Beli barang mahal? YOLO.
Liburan padahal tabungan tipis? YOLO.
Tidur jam tiga pagi demi scrolling video random? YOLO juga.
Kalau semua dibenarkan dengan YOLO, nanti dompet bisa ikut berkata:
“You Only Live Once, tapi cicilan hidup selamanya.”
Mengapa FOMO dan YOLO Begitu Laku?
Karena media sosial berhasil mengubah hidup menjadi perlombaan tanpa garis akhir.
Setiap hari orang melihat:
- teman diterima kerja,
- orang lain menikah,
- orang sukses umur 20,
- influencer beli mobil,
- konten “sehari menghasilkan 10 juta.”
Akhirnya banyak orang lupa bahwa media sosial itu panggung, bukan kehidupan utuh.
Tidak ada orang upload:
- ditolak kerja 7 kali,
- nangis karena overthinking,
- rekening tinggal seribu,
- atau makan mi instan tiga hari berturut-turut.
Yang muncul hanya highlight kehidupan.
Penonton yang tidak sadar akhirnya membandingkan “behind the scene” hidupnya dengan “trailer bioskop” milik orang lain.
Bagaimana FOMO Mengubah Cara Orang Berpikir?
FOMO membuat orang sulit menikmati proses.
Belajar harus cepat sukses.
Bisnis harus langsung viral.
Kuliah harus langsung kaya.
Bahkan healing pun sekarang dijadikan kompetisi.
Lucunya, banyak orang pergi liburan bukan untuk istirahat, tapi untuk produksi konten bahwa dirinya sedang istirahat.
Akhirnya manusia modern menjadi lelah dengan cara yang estetik.
Dimana FOMO dan YOLO Paling Subur?
Tentu saja di media sosial.
Platform digital hari ini bekerja seperti pasar malam yang tidak pernah tutup. Semua berteriak ingin dilihat:
- paling produktif,
- paling sibuk,
- paling bahagia,
- paling sukses,
- paling menderita juga kadang dijadikan konten.
Ironisnya, semakin banyak orang ingin terlihat hidup, semakin banyak juga yang kehilangan kehidupan nyata.
Meja makan ramai oleh keluarga, tapi semuanya sibuk menatap layar masing-masing.
Tongkrongan penuh tawa, tapi separuh waktunya dipakai memilih foto mana yang cocok diunggah.
Kapan Semua Ini Menjadi Masalah?
Ketika nilai diri mulai ditentukan oleh validasi digital.
Saat jumlah like lebih penting daripada kualitas hidup.
Saat seseorang merasa gagal hanya karena hidupnya tidak seperti konten TikTok berdurasi 30 detik.
Padahal hidup nyata tidak punya fitur:
- cut,
- filter,
- backsound sedih,
- ataupun caption motivasi.
Hidup nyata kadang membosankan, lambat, dan penuh pengulangan. Tapi justru di situlah manusia bertumbuh.
Siapa yang Paling Diuntungkan?
Platform digital.
Semakin orang merasa kurang, semakin lama mereka scrolling.
Semakin orang cemas tertinggal tren, semakin tinggi interaksi.
FOMO ternyata bukan sekadar fenomena sosial. Ia sudah menjadi industri.
Manusia dibuat terus merasa:
- kurang keren,
- kurang sukses,
- kurang produktif,
- kurang bahagia.
Karena orang yang merasa cukup biasanya lebih sulit dikendalikan iklan.
Penutup
FOMO membuat orang takut tertinggal.
YOLO membuat orang takut menunda.
Akhirnya banyak orang berlari sangat cepat… tanpa tahu sebenarnya mau ke mana.
Mungkin sesekali kita perlu berhenti sebentar.
Bukan untuk kabur dari perkembangan zaman, tapi untuk memastikan bahwa hidup kita tidak hanya sibuk mengejar sorotan.
Karena hidup bukan lomba siapa paling viral.
Dan kebahagiaan tidak selalu harus diumumkan ke seluruh dunia.
