Dulu, waktu masih mahasiswa, saya termasuk golongan yang aktif atau dalam istilah yang lebih jujur: terlalu sering muncul di mana-mana.
Ikut pemilihan ketua? Pernah.
Jadi utusan ke luar kota? Sering.
Duduk di forum penting dengan wajah serius? Wajib.
Secara semangat, saya menganut paham eksistensialisme: “Aku tampil, maka aku ada.”
Sayangnya, semesta punya selera humor yang unik.
Dari sekian banyak kontestasi, saya hampir selalu gagal jadi “tokoh utama”.
Alih-alih menjadi ketua, saya lebih sering terpilih jadi… second man.
Second Man: Profesi yang Tidak Tertulis, Tapi Selalu Dibutuhkan
Second man itu unik.
Dia tidak memimpin rapat, tapi tahu isi rapat.
Tidak jadi wajah organisasi, tapi tahu semua masalah organisasi.
Tidak selalu bersuara di depan, tapi idenya sering dipakai… tanpa kredit.
Second man adalah:
“Orang yang bekerja saat organisasi terlihat diam.”
Kita ini seperti WiFi tidak kelihatan, tapi semua orang butuh.
Lucunya, di posisi ini kita justru punya kebebasan:
bebas berpikir
bebas memberi ide
bebas bergerak tanpa terlalu banyak sorotan
Dan yang paling penting:
kalau salah… ya tidak terlalu disalahkan.
Ambisi Kecil yang Disimpan Rapi
Namun, mari jujur.
Seikhlas apa pun kita jadi second man, selalu ada suara kecil dalam hati:
“Kapan ya jadi yang di depan?”
Ingin juga sesekali:
jadi yang didengarkan
jadi yang dipanggil duluan
jadi yang namanya disebut di akhir acara
Bukan karena haus jabatan…
tapi ya, sedikit ingin eksis juga tidak apa-apa, kan?
Plot Twist: Ketika Tidak Mencalonkan Diri, Justru Dipilih
Hidup ini memang tidak suka ditebak.
Saat kita semangat mencalonkan diri tidak terpilih.
Saat kita santai, bahkan tidak berharap tiba-tiba ditunjuk.
Dan itu terjadi pada saya.
Dalam sebuah organisasi profesi (yang isinya orang-orang dewasa, sibuk, dan penuh pertimbangan hidup), saya justru diminta menjadi ketua.
Tanpa kampanye.
Tanpa visi-misi dramatis.
Tanpa baliho.
Tiba-tiba saja:
“Ya sudah, kamu saja.”
Menjadi Imam… Karena Imam Lain Berhalangan
Awalnya saya berpikir ini hanya sementara.
Seperti jadi MC dadakan.
Atau pegang mic karena tidak ada yang maju.
Tapi lama-lama sadar:
ini bukan gladi resik.
Ini pentas utama.
Saya yang dulu terbiasa jadi second man…
sekarang harus jadi imam.
Padahal, jujur saja:
saya tidak sedang ingin berdiri di depan.
Tapi ya bagaimana,
imam-imam lain sedang sibuk dengan dunia masing-masing.
Akhirnya:
“Baiklah, saya maju. Tapi jangan lupa… saya juga masih belajar.”
Organisasi Profesi: Idealism Bertemu Realitas
Kalau di dunia mahasiswa, idealisme itu seperti bahan bakar utama.
Semua semangat, semua bergerak, semua ingin berubah.
Tapi di organisasi profesi?
Sedikit berbeda.
Di sini, orang mulai bertanya:
“Apa manfaatnya untuk saya?”
“Seberapa fleksibel kegiatannya?”
“Nyaman tidak ya?”
Bukan salah.
Ini hanya tanda bahwa hidup sudah punya banyak prioritas.
Dan di tengah kondisi seperti itu, memimpin bukan lagi soal visi besar saja
tapi juga soal:
menjaga keseimbangan antara idealisme dan kenyataan.
Pelajaran dari Seorang Second Man yang Jadi Imam
Menjadi pemimpin itu ternyata bukan soal posisi.
Tapi soal kesiapan:
mendengar lebih banyak
sabar lebih panjang
dan tetap bergerak meski tidak semua orang ikut berlari
Dan yang paling penting:
pengalaman jadi second man itu bukan kegagalan.
Justru itu latihan terbaik.
Karena kita sudah terbiasa:
melihat dari belakang
memahami dari dalam
dan bekerja tanpa harus selalu terlihat
Kadang Kita Memimpin, Kadang Kita Mengaminkan
Hidup ini seperti barisan salat.
Kadang kita di depan jadi imam.
Kadang kita di belakang jadi makmum.
Dan keduanya sama pentingnya.
Tidak selamanya kita harus memimpin.
Tidak selamanya juga kita bisa bersembunyi di balik peran pendukung.
Akan ada waktunya kita maju.
Dan akan ada waktunya kita mundur dengan lapang.
Karena pada akhirnya:
yang terpenting bukan posisi kita di barisan,
tapi apakah kita tetap ikut dalam gerakan.
Dan kalau suatu hari nanti ada yang lebih pantas di depan…
Tenang saja.
Kita sudah berpengalaman jadi makmum yang baik
tinggal mengaminkan saja,
dengan versi terbaik dari diri kita.
