
Saat Membaca Dianggap Tidak Penting”
Di sebuah negeri yang gemar membuat slogan, “literasi” adalah kata yang terdengar sangat mulia. Ia diucapkan di seminar, ditulis dalam kurikulum, dan dibingkai rapi di dinding sekolah. Guru-guru di seluruh Indonesia diminta menjadi ujung tombak, menumbuhkan kecintaan membaca agar peserta didik mampu berpikir kritis di masa depan.
Namun, di sisi lain panggung, ada pertunjukan yang tak kalah menarik bahkan cenderung absurd.
Beberapa pejabat, dengan penuh percaya diri, mulai menyampaikan sebuah “kejujuran baru”: tidak perlu banyak membaca buku.
Sebuah pernyataan yang, jika dipikir-pikir, terasa seperti seorang koki yang menyarankan orang untuk tidak perlu belajar memasak, atau seorang pelaut yang berkata peta itu tidak penting. Tapi mungkin kita yang terlalu kuno. Mungkin ini adalah era baru era di mana kebijaksanaan bisa lahir tanpa membaca, cukup dengan “perasaan” dan “pengalaman”.
Apakah Literasi itu hanya Tugas Guru, Bukan Pejabat?!
Di ruang-ruang kelas, guru berjuang. Mereka membuat pojok baca, mengajak siswa berdiskusi, bahkan rela mengorbankan waktu untuk membangun budaya literasi. Buku diperkenalkan sebagai jendela dunia, sebagai alat untuk memahami realitas, dan sebagai sarana membangun nalar.
Sementara itu, di ruang-ruang berpendingin udara, lahir narasi tandingan: membaca bukan lagi kebutuhan utama.
Ironinya, pesan ini tidak datang dari sembarang orang. Ia datang dari mereka yang memiliki kuasa, yang ucapannya dapat membentuk arah berpikir publik. Maka jadilah guru dan pejabat seperti dua aktor dalam panggung yang berbeda naskah yang satu mengajak membaca, yang lain seperti berkata, “Santai saja, tidak usah terlalu serius dengan buku.”
Limbah Pemikiran di Ruang Publik
Jika limbah biasanya kita bayangkan sebagai sesuatu yang mencemari lingkungan fisik, maka pernyataan yang meremehkan pentingnya membaca bisa disebut sebagai limbah pemikiran. Ia tidak terlihat, tapi menyebar. Tidak berbau, tapi mempengaruhi.
Bayangkan seorang siswa yang sedang belajar mencintai buku, lalu mendengar bahwa membaca tidak terlalu penting. Apa yang tersisa dari motivasinya?
Mungkin ia akan berpikir, “Kalau yang di atas saja tidak perlu membaca, untuk apa saya bersusah payah?”
Di titik ini, literasi bukan lagi sekadar program pendidikan. Ia menjadi korban dari kontradiksi.
Membaca dan Berpikir Kritis itu Bukan Sekadar Formalitas!
Membaca bukan hanya soal menambah informasi. Ia adalah latihan berpikir. Dari membaca, seseorang belajar membandingkan, menganalisis, dan mempertanyakan. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah opini yang sering kali berdiri tanpa fondasi.
Dan di sinilah letak bahayanya.
Ketika membaca diremehkan, maka berpikir kritis ikut terpinggirkan. Ketika berpikir kritis melemah, maka ruang publik menjadi ladang subur bagi asumsi, spekulasi, dan keputusan yang minim pertimbangan.
Satire yang Terlalu Nyata
Mungkin kita memang sedang memasuki babak baru. Babak di mana buku menjadi aksesoris, bukan kebutuhan. Di mana literasi cukup dijadikan slogan, bukan praktik.
Atau mungkin ini hanya ironi yang terlalu nyata untuk dianggap lucu.
Guru terus diminta menanamkan kecintaan membaca. Siswa terus didorong untuk berpikir kritis. Tapi di saat yang sama, ada pesan lain yang berbisik pelan namun kuat: membaca itu tidak penting.
Jika ini adalah satire, maka ia adalah satire yang ditulis oleh realitas itu sendiri.
Antara Contoh dan Instruksi
Dalam pendidikan, contoh selalu lebih kuat daripada instruksi. Guru boleh saja meminta siswa membaca seratus buku, tapi jika figur publik justru menunjukkan sebaliknya, maka pesan itu akan tereduksi.
Pertanyaannya sederhana: kita ingin generasi yang gemar membaca dan berpikir kritis, atau generasi yang cukup percaya tanpa perlu memahami?
Jika jawabannya yang pertama, maka mungkin sudah saatnya semua pihak terutama mereka yang berada di atas panggung kembali membuka buku. Bukan untuk sekadar dibaca, tapi untuk dihayati.
Karena tanpa itu, literasi akan tetap menjadi slogan indah… yang pelan-pelan kehilangan makna.