Saya dulu guru. “Dulu” — kata yang sekarang terdengar seperti kenangan sekaligus keputusan yang penuh pertimbangan… dan sedikit trauma administratif.
Semua bermula ketika saya mendapat KS baru. Dalam teori manajemen pendidikan, seorang kepala sekolah idealnya menjadi pemimpin, pengarah, dan pelindung bagi guru-gurunya. Dalam praktik yang saya alami, beliau lebih mirip pengamat jarak jauh—hadir secara struktural, absen secara emosional.
Tapi itu belum seberapa.
Tugas yang Turun dari Langit (Tanpa Parasut)
Suatu hari, datanglah tugas yang katanya “biasa saja”:
rekap laporan BOS dari tahun pertama sekolah menerima dana… sampai tahun 2015.
Kalimatnya sederhana. Dampaknya luar biasa.
Saya sempat berpikir ini pekerjaan tim. Ternyata tidak. Ini lebih ke arah pengabdian individu yang dikemas sebagai tanggung jawab kolektif.
“Dikejar ya, ini penting,” kata KS singkat.
Singkat, padat, dan tanpa strategi.
Tiga Hari yang Terasa Seperti Ujian Nasional Kehidupan
Hari pertama masih penuh semangat. Laptop menyala, data berserakan, kopi mulai diseduh. Saya merasa seperti pahlawan literasi angka.
Hari kedua, semangat mulai berubah bentuk menjadi bertahan hidup. Mata mulai berat, logika mulai bernegosiasi dengan kenyataan.
Hari ketiga… saya tidak yakin masih manusia atau sudah menjadi bagian dari sistem akuntansi itu sendiri.
Tidur? Tidak ada.
Istirahat? Opsional.
Logika? Kadang hadir, kadang izin.
Untuk bertahan, saya mengandalkan dua hal:
kopi dan nasi.
Kopi untuk membuka mata.
Nasi untuk mengingatkan bahwa saya masih hidup.
Dan sebagai bentuk “apresiasi”, saya diberi nasi Padang.
Sebuah ironi yang indah—di tengah tumpukan angka BOS yang harus dipertanggungjawabkan secara rinci, kebutuhan saya sebagai manusia dipenuhi dengan satu kotak nasi. Lengkap, tapi tidak cukup.
Ketika Dedikasi Bertemu Realitas Tubun
Tubuh ternyata punya batas. Sesuatu yang sering dilupakan dalam dunia pendidikan yang penuh tuntutan tapi minim perlindungan.
Setelah tiga hari begadang, akhirnya tubuh saya “mengundurkan diri” lebih dulu.
Saya tumbang.
Bukan secara metaforis, tapi harfiah.
Dan perjalanan pengabdian itu pun berlanjut… ke RS.
Empat hari saya dirawat. Bukan karena kecelakaan, bukan karena penyakit aneh, tapi karena kombinasi sederhana:
kelelahan, kurang tidur, dan tekanan yang dianggap “bagian dari tugas”.
Satire yang Tidak Perlu Dilebih-lebihkan
Lucunya, setelah semua itu, tidak ada yang benar-benar berubah.
Laporan selesai.
Tugas dianggap tuntas.
Sistem tetap berjalan seperti biasa.
Dan saya?
Saya mendapat satu pelajaran penting:
di beberapa situasi, dedikasi guru itu tidak diukur dari kualitas mengajar, tapi dari seberapa kuat ia bertahan dalam tekanan yang seharusnya tidak perlu ada.
Keputusan yang Terasa Masuk Akal
Keluar dari dunia guru bukan keputusan yang mudah. Tapi ada titik di mana seseorang harus memilih:
bertahan dalam sistem yang menguras, atau menyelamatkan diri.
Saya memilih yang kedua.
Bukan karena tidak cinta pendidikan.
Tapi karena saya sadar, mencintai sesuatu tidak harus berarti mengorbankan diri tanpa batas.
Kini, ketika mendengar kata BOS, saya tidak lagi langsung berpikir tentang dana operasional sekolah. Saya teringat tiga malam tanpa tidur, kopi yang tak terhitung, nasi Padang yang simbolis, dan empat hari di RS.
Sebuah pengalaman yang, jika ditulis dalam laporan resmi, mungkin hanya akan menjadi angka.
Tapi dalam hidup saya, itu adalah titik balik.
Karena ternyata, yang lebih penting dari menyelesaikan laporan…
adalah memastikan kita masih cukup sehat untuk melanjutkan hidup setelahnya.
