“Guru SD Merangkap Bendahara”
Pagi itu, Bu Rini datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Bukan untuk menyiapkan materi pelajaran, bukan pula untuk menyusun strategi agar murid-muridnya lebih mudah memahami pecahan. Ia membuka laci meja, mengeluarkan buku kas, lalu menarik napas panjang.
Hari ini, ia bukan hanya guru. Ia juga bendahara.
Sebuah jabatan tambahan yang, di atas kertas, terdengar sederhana: mencatat pemasukan dan pengeluaran. Tapi di lapangan, perannya lebih mirip akrobat—menjaga keseimbangan antara angka, tanggung jawab, dan kenyataan yang sering kali tidak sejalan.
Ketika Angka Tidak Selalu Jujur
Di laporan, semuanya tampak rapi. Kolom pemasukan, kolom pengeluaran, dan—jika beruntung—angka yang terlihat seperti “surplus”. Teman-teman sejawat pun melihatnya dengan santai.
“Wah, bendahara enak ya, kelihatannya uangnya banyak.”
Bu Rini hanya tersenyum.
Karena di balik angka yang tampak sehat itu, ada cerita yang tidak tertulis. Ada pengeluaran mendadak yang belum cair, ada kebutuhan sekolah yang tidak bisa menunggu, dan ada satu solusi paling cepat yang sering diambil: uang pribadi.
Ya, nombok.
Jumlahnya mungkin tidak selalu besar. Tapi jika sering terjadi, ia bukan lagi sekadar bantuan—melainkan kebiasaan yang diam-diam menggerus.
Kelas yang Menunggu, Administrasi yang Mengejar
Sementara itu, di ruang kelas, murid-muridnya menunggu. Buku latihan belum diperiksa, rencana pembelajaran tertunda, dan perhatian guru yang seharusnya utuh kini terbagi.
Menjadi bendahara bukan hanya soal uang. Ia soal waktu.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengajar, tersita untuk menyusun laporan, mencocokkan bukti transaksi, dan memastikan setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan. Karena jika ada yang tidak sesuai, bendahara yang pertama kali ditanya.
Dan sering kali, yang terakhir dipahami.
Surplus yang Semu
Yang menarik, kata “surplus” sering kali menjadi ilusi kolektif.
Di atas kertas, mungkin benar ada sisa anggaran. Tapi realitasnya, dana itu belum tentu tersedia secara nyata. Bisa jadi masih dalam proses pencairan, atau sudah “ditalangi” terlebih dahulu oleh bendahara.
Namun persepsi publik jarang masuk sedalam itu.
Yang terlihat hanya angka.
Yang dirasakan bendahara, adalah tekanan.
Satire yang Terasa Nyata
Ada ironi yang sulit diabaikan.
Guru diminta fokus pada pembelajaran, meningkatkan kualitas pendidikan, dan membentuk karakter siswa. Tapi di saat yang sama, ia juga diberi tanggung jawab administratif yang tidak ringan—bahkan berisiko.
Jika semua berjalan lancar, itu dianggap biasa.
Jika ada masalah, bendahara jadi pusat perhatian.
Dan di antara semua itu, masih ada satu ekspektasi yang tidak pernah berubah: tetap profesional, tetap sabar, dan tetap tersenyum.
Menimbang Ulang Beban Tambahan
Fenomena guru merangkap bendahara bukan hal baru. Ia sering dianggap sebagai solusi praktis di tengah keterbatasan sumber daya. Tapi pertanyaannya, sampai kapan praktik ini dianggap wajar?
Apakah adil membebankan tugas keuangan yang kompleks kepada guru yang sejatinya memiliki fokus utama di ruang kelas?
Apakah wajar jika risiko finansial—termasuk kemungkinan nombok—ditanggung secara pribadi?
Dan yang paling penting: apakah kita benar-benar memahami apa yang terjadi di balik laporan yang terlihat “baik-baik saja”?
Epilog
Bu Rini menutup buku kasnya. Ia lalu beranjak ke kelas, mencoba kembali menjadi guru seutuhnya. Di depan murid-muridnya, ia menjelaskan pelajaran dengan penuh semangat, seolah tidak ada beban lain yang menunggu.
Mungkin memang begitulah guru.
Mereka terbiasa menyelesaikan banyak hal dalam diam. Termasuk menjadi bendahara—dengan segala risiko, dilema, dan ironi yang menyertainya.
Dan ketika orang lain melihat angka surplus, hanya mereka yang tahu: di baliknya, ada pengorbanan yang tidak pernah tercatat.
