Di era digital yang serba cepat ini, menjadi “update” seolah sudah berubah dari pilihan menjadi kewajiban. Apa yang sedang viral hari ini, besok harus sudah dicoba. Apa yang sedang ramai dibicarakan, seakan wajib ikut dikomentari. Jika tidak, ada rasa tertinggal bukan dari pengetahuan, tapi dari keramaian. Di sinilah panggung besar bernama “ikut tren” memainkan perannya.
Fenomena ini sering kali dibungkus dengan istilah keren seperti FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut ketinggalan momen, tren, atau pengalaman yang sedang populer. Seseorang dengan FOMO cenderung merasa gelisah jika tidak ikut dalam arus yang sedang ramai, seolah eksistensinya dipertaruhkan dalam setiap tren yang lewat.
Di sisi lain, ada juga jargon yang tak kalah populer, yaitu YOLO (You Only Live Once). Secara harfiah, artinya “kita hanya hidup sekali.” Awalnya, konsep ini terdengar inspiratif—mengajak orang berani mencoba hal baru. Namun dalam praktiknya, YOLO sering berubah menjadi pembenaran untuk melakukan apa saja, termasuk mengikuti tren tanpa arah yang jelas.
Jika dipadukan, FOMO dan YOLO menjadi kombinasi yang cukup menarik: takut ketinggalan, sekaligus merasa harus mencoba semuanya. Hasilnya? Banyak orang berlari, tapi tidak tahu sedang menuju ke mana.
Dalam kacamata satire, kebiasaan ikut tren ini kadang terlihat seperti lomba estafet tanpa garis akhir. Satu orang memulai, yang lain mengikuti, lalu yang lain lagi meniru. Kreativitas seolah digantikan oleh kecepatan menyalin. Bukan lagi siapa yang paling orisinal, tetapi siapa yang paling cepat ikut arus.
Lucunya, semakin banyak yang ikut, semakin besar pula rasa bangga yang muncul. Padahal, jika dipikir-pikir, di mana letak keistimewaannya jika semua orang melakukan hal yang sama? Menjadi “sama dengan yang lain” kini terasa seperti pencapaian, bukan kehilangan identitas.
Ciri paling halus dari kebiasaan ini adalah ketika seseorang mulai merasa cukup dengan meniru. Tidak ada dorongan untuk menciptakan sesuatu yang baru, karena yang sudah ada dianggap lebih aman. Risiko gagal dihindari, tetapi kesempatan untuk berkembang juga ikut menghilang.
Padahal kreativitas lahir justru dari keberanian untuk berbeda. Dari mencoba hal yang belum tentu disukai banyak orang. Dari mengambil jalan yang tidak selalu ramai. Namun dalam budaya ikut tren, menjadi berbeda sering kali dianggap aneh, bahkan ditinggalkan.
Satire ini bukan berarti semua tren itu buruk. Tren bisa menjadi inspirasi, referensi, bahkan peluang. Masalahnya muncul ketika tren dijadikan tujuan, bukan sekadar alat. Ketika seseorang kehilangan arah pribadi dan hanya bergerak mengikuti keramaian.
Mungkin sudah saatnya kita sedikit melambat. Tidak semua hal harus diikuti, tidak semua yang viral harus dicoba. Kadang, diam dan tidak ikut tren justru menunjukkan satu hal yang semakin langka: keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Karena pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang yang ikut-ikutan. Dunia justru membutuhkan lebih banyak orang yang berani berpikir, mencipta, dan berdiri dengan caranya sendiri.
