Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA tahun 2025 yang dinilai rendah kembali memantik perdebatan klasik. Media ramai, linimasa gaduh, dan satu kata langsung jadi tersangka utama: guru.
“Guru kurang kompeten,” kata sebagian.
“Metode mengajarnya ketinggalan zaman,” tambah yang lain.
Namun pertanyaannya sederhana: benarkah guru adalah biang kerok utama? Atau justru kita sedang mencari kambing hitam paling dekat?
TKA Rendah Adalah Gejala, Bukan Penyakit
Nilai TKA yang rendah sejatinya bukan masalah tunggal, melainkan alarm sistemik. Ia bukan muncul tiba-tiba pada 2025, melainkan hasil akumulasi panjang dari:
perubahan kurikulum yang terlalu sering,
Jika TKA diibaratkan hasil laboratorium, maka menyalahkan guru saja sama seperti menyalahkan termometer karena suhu badan tinggi.
Benarkah Guru Kurang Kompeten? Mari Jujur
Ya, harus diakui:
ada guru yang kurang berkembang, tidak adaptif, dan mengajar sekadar menggugurkan jam. Itu fakta yang tidak perlu ditutup-tutupi.
Namun fakta lain yang sering diabaikan:
Banyak guru tidak diberi ruang belajar yang sehat
Pelatihan sering bersifat formalitas, bukan penguatan kompetensi
Guru dituntut inovatif, tapi dibebani administrasi yang menyita energi
Guru diminta fokus pada murid, tapi juga harus fokus pada laporan, data, dan aplikasi
Dalam kondisi seperti ini, pertanyaannya berubah:
apakah guru tidak kompeten, atau sistem yang tidak memungkinkan kompetensi tumbuh?
Pendidikan Terlalu Sibuk, Kurang Mendalam
Salah satu problem besar pendidikan kita hari ini adalah ramai aktivitas, miskin makna.
Siswa:
sibuk proyek, tapi tak paham konsep,
aktif diskusi, tapi dangkal nalar,
rajin presentasi, tapi lemah literasi.
Guru:
sibuk modul ajar,
sibuk asesmen formatif,
sibuk laporan refleksi,
namun kehilangan waktu untuk mengajar secara utuh dan mendalam.
TKA tidak menguji seberapa kreatif poster siswa, tapi seberapa kuat daya pikir dan pemahamannya.
Kurikulum Berubah, Guru Berlari, Murid Tertinggal
Perubahan kurikulum yang cepat sering tidak dibarengi:
waktu adaptasi yang cukup,
pendampingan yang konsisten,
evaluasi yang jujur di lapangan.
Guru dipaksa berlari mengejar istilah baru, sementara murid masih tertatih memahami dasar. Akibatnya, pembelajaran menjadi tambal sulam: terlihat modern, tapi rapuh di dalam.
Peran Orang Tua dan Budaya Belajar yang Terlupakan
TKA rendah juga tidak bisa dilepaskan dari:
Sekolah sering dijadikan satu-satunya penanggung jawab, padahal pendidikan adalah kerja kolektif: rumah, sekolah, dan lingkungan.
Jadi, Siapa yang Salah?
Jawaban paling jujur sekaligus paling tidak populer:
tidak ada satu pihak yang sepenuhnya salah, dan tidak ada yang sepenuhnya benar.
Guru bukan malaikat, tapi juga bukan biang kerok tunggal
Sistem perlu dikritik, bukan hanya dijalankan
Evaluasi pendidikan harus berani melihat akar, bukan hanya angka
Jika setiap hasil buruk selalu diakhiri dengan menunjuk guru, maka yang rusak bukan hanya moral pendidik, tapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.
TKA Rendah Adalah Undangan untuk Berbenah
Hasil TKA SMA 2025 seharusnya tidak dijadikan panggung saling menyalahkan, melainkan cermin untuk bercermin bersama.
Bukan pertanyaan “siapa yang salah?”
tetapi “apa yang harus dibenahi, dan bagaimana caranya?”
Karena pendidikan tidak runtuh karena satu guru yang lelah,
melainkan karena sistem yang terlalu lama menutup mata.
.png)






