bahwa presiden negara lain bisa diperlakukan seperti paket ekspedisi internasional—tinggal jemput, bawa, urus belakangan.
Trump, dengan gaya khasnya, seolah berkata pada dunia:
“Kalau saya mau, saya bisa. Kalau saya bisa, berarti boleh.”
Dan dunia?
Sebagian mengecam, sebagian diam, sebagian sibuk menghitung harga minyak.
Antara Prinsip dan Kepentingan
Dalam buku pelajaran, kita diajarkan bahwa kedaulatan negara itu sakral.
Dalam praktiknya, kedaulatan tampaknya fleksibel tergantung siapa yang pegang paspor biru.
Jika presiden negara kecil diciduk, itu disebut penegakan hukum internasional.
Jika negara besar melanggar, itu disebut kepentingan global.
Lucunya, hukum internasional sering terlihat seperti rambu lalu lintas:
Negara kuat: boleh nerobos, toh mobilnya besar.
Negara kecil: salah dikit langsung ditilang.
Mari Kita Bermain Imajinasi (yang Tidak Lucu)
Sekarang bayangkan ini terjadi di Indonesia.
Suatu pagi, breaking news berbunyi:
“Presiden Indonesia Diamankan oleh Negara Adidaya untuk Kepentingan Global.”
Reaksi kita kira-kira bagaimana?
Sedih dan marah
“Ini pelecehan kedaulatan! Harga diri bangsa diinjak!”Bingung
“Ini hoaks apa bukan? Kok kayak sinetron?”Santai tapi nyeleneh
“Yaudah sih, siapa tahu lebih rapi nanti.”Bahagia diam-diam
(yang ini biasanya tidak komentar, tapi rajin baca kolom komentar)
Di sinilah satirnya:
apakah kita benar-benar marah karena kedaulatan dilanggar, atau karena tokohnya kebetulan tidak kita sukai?
Bahaya Jika Ini Dinormalisasi
Masalah terbesar bukan Maduro, Trump, atau Venezuela.
Masalahnya adalah preseden.
Jika hari ini satu presiden bisa “diambil” tanpa perang,
besok bisa menyusul:
menteri,
tokoh oposisi,
bahkan aktivis dengan alasan yang selalu sama: demi stabilitas.
Dan jika dunia mengangguk hari ini, maka besok tidak ada negara yang benar-benar aman, kecuali yang punya kekuatan nuklir dan veto.
Dunia Seperti RT Global
Dunia internasional hari ini mirip rapat RT:
Yang rumahnya besar, suaranya paling didengar.
Yang rumahnya kecil, disuruh ikut iuran tapi jangan banyak tanya.
Kalau ada masalah, ketua RT datang bukan untuk mediasi, tapi langsung bawa gembok.
Dan kita?
Warga yang berharap tidak kebagian giliran.
Bukan Soal Siapa yang Disukai, Tapi Apa yang Dibolehkan
Kritik ini bukan pembelaan pada Maduro, juga bukan pembenaran pada Trump.
Ini tentang satu hal sederhana tapi penting:
Jika penculikan presiden dianggap wajar, maka kedaulatan hanya tinggal kata di buku PPKn.
Dan jika suatu hari itu terjadi pada kita,
pertanyaannya bukan lagi: Trump jahat atau tidak
melainkan: kita masih merasa satu bangsa, atau sudah terbiasa menertawakan diri sendiri?
Karena satire paling menyakitkan bukan yang lucu,
tapi yang diam-diam terasa masuk akal.







