uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

cita-cita dan permasalahanya



Cita-cita adalah kata yang sering kita dengar. Sering kali cita-cita kita kaitkan dengan dengan keinginan atau harapan yang bersifat jangka panjang maupun jangan pendek. Tak jarang cita-cita juga dikaitkan dengan tujuan profesi. Jujur saja, saya ngenal istilah cita-cita dari guru kelas satu sekolah dasar saya yang tidak lain adalah itu saya. Sebagai seorang anak saya tidak pernah ditanya, “apa cita-cita mu?” tapi ketika saya sebagai seorang murid maka ibu saya menanyakan hal tersebut di kelas “apa cita-cita mu?”.

Seorang anak yang ditanya demikian, walaupun uru tersebut adalah orang tuanya, ia juga akan menyiapkan mental terkuatnya, terutama jika dia jawabanya bukan jawaban terbaik, tentu ia akan mengalami dua kali kekalahan, sebagai siswa yang bukan terpandai dan sebagai anak yang tak unggul. Namun bukan masalah psikologi saya diwaktu kecil pembahasanya.

Awalanya sebelum guru saya menanyakan cita-cita kepada saya, saya berharap ingin menjadi power renger. Ya mungkin itu adalah cita-cita pertama saya dan mungkin masih banyak orang yang cita-cita awalnya bukan menjadi professional seperti pilot, dokter, masinis, pramugari dan banyak lainya. Namun karena guru saya dan mungkin kebanyakan guru menganggap cita-cita terbaik adalah menjadi seorang seorang professional maka, siswa akan mengikuti pola piker guru tersebut.

 Ketika itu saya menjawa cita-cita saya menjadi pilot. Namun jujur saja, saya juga belum tahu apa itu pilot yang pasti keren. Setelah saya coba bertanya kepad ibu saya di rumah, ap aitu pilot ?, lalu ibu saya menjawab dengan cukup menyakinakan. Akhirnya saya tetapkan cita-cita saya menjadi seorang pilot kala itu, namun setelah saya berfikir ulang tentang pilot yang ada diatas sana dan lain sebagainya saya merevisi cita-cita saya.

Selain saya mencoba memikirkan ulang tentang cita-cita saya juga ikut sebuah sekolah sepak bola dan terlebih kala itu kartu tsubatsah adalah kartu favorit sebual anak laki-laki. Maka sejak kelas tiga SD saya bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Cita-cita yang kedua ini agaknya lebih dekat tercapai dibandingkan dengan menjadi pilot.

Pada cita-cita kedua ini saya berusaha keras untuk mewujudakan dnegan masuk ke sekolah sepak bola dengan jadwal latihan 3 kali dalam satu minggu, saya sering kali menomor duakan Pendidikan formal yang baik saya walaupun tidak belajar bisa dengan mudah mengerjakan soal yang entah mengapa sebabnya.

Beberapa kali saya mengikuti pertandingan baik itu pertandningan persahabatan maupun pertandingan liga yang diadakan pada momen-momen tertentu. Pada cita-cita kedua ini saya harus berusaha keras menjadi yang utama dalam latihan agar menjadi pemain inti dalam pertandingan. Seiring berjalannya waktu saya masuk ke Sekolah Menengah Pertama sayapun mengubah cita-cita saya sesuai perkembangan jaman, yaitu menjadi seorang pemusik atau pemain Band.

Rutin dalam seminggu sekali saya dan kawan-kawan menyewa sebuah studio band yang ada di dekat sekolah kami. Sebatas untuk mencicipi bagaimana cara menggebuk drum yang baik dan benar. Atau mencoba menarik senar bass yang masih agak aneh di mata saya. Saya harus berhemat uang jajan untuk mengejar cita-cita saya, hingga saya sadar untuk menjadi pemain band yang hemat tak hanya butuh kerja keras, tapi harus didukung dengan bakat.

Pada masa sekolah menengah atas yang kebetulan saya masuk ke sekolah tenik mesin kala itu saya mulai tidak berselera untuk bercita-cita. Saya hamper lupa apa cita-cita saya dalam hal profesionalisme tapi yang pasti cita-cita akan mengikuti dukungan dari lingkungan. Dan kini saya menjadi seorang guru, sebuah profesi yang jauh dari cita-cita saya dimasa kecil.

Semasa saya kuliah di fakultas Pendidikan saya juga masih kurang tertarik untuk menjadi seoran guru, terutama guru ibu kota entah mengapa. Pada saat kuliah dan saya ikut dalam kegiatan organisasi yang mana pada organisasi tersebut juga melakukan pengajaran pada anak-anak jalan. Saya belum cukup tergugah dengan hal tersebut sampai pada akhirnya setalah saya lulus, saya mencoba lakukan peruntungan mendaftar ke Program kementrian pemuda dan olahraga yaitu pemuda penggerak pembangunan di perdesaan.

Disanalah saya baru tahu manfaaat menjadi guru. Guru merupakan alat kita untuk melakukan pencerahan, guru memiliki kedudukan yang hamper setera dengan tokoh masayarakat yang disegani. Guru memiliki peluang besar untuk menyebarkan pemahaman baru untuk membuka khasanah pemikiran penduduk. Maka setelah saya pulang dari program tersebut saya yakin bahwa guru adalah cara yang memperbaiki cara pandang masyarakat tentang sesuatu.

Orang tua dan cita-cita
Orang tua sering kali menintipkan cita-citanya pada anaknya. Ketika orang tua merasa dirinya tidak mampu menggapai cita-cita yang dia inginkan maka ia membentu akannya sedemikan rupa untuk meraih cita-cita yang dia inginkan. Tentu tidak semua orang tua, tapi tidak sedikit juga orang tua yang berpikir demikan. Bahkan yang terparah adalah orang tua memaksakan hendeaknya tanpa melihat Batasan yang dimiliki oleh sang anak.

Hal ini akan berdampak negative pada anak. Menitipkan cita-cita pada anak tidak dilarang tapi juga harus mempertimbangkan fase dan kondisi anak. Semua manusia diberikan keunggulan yang bermacaml-macam. Walapun dia adalah anak anda, tapi keunggulanya bisa berbeda atau melebihi anda.

Jika orang tua ingin menitipkan cita-cita pada anak, maka haruslah orang tua tersebut memberikan pengertian yang baik tentang manfaat dan tujuan merahai cita-cita tersebut. Yang demikian itu akan membeuat anak merasa memiliki cita-cita orang tuanya. Dan cita-cita tersebut menjadi cita-cita Bersama.

Lingkugan dan cita-cita
Orang tua yang menginginkan anak menjadi sukses dalam bidang professional tertentu tentu sering kali lalai menciptakan iklim untuk menanamkan cita-cita tersebut. Contoh sebuah putri yang diharap dan dicita-cita menjadi penghafal al qur’an haruslah diberikan dan di ciptakan lingkunag yang mendukung cita-cita tersebut.

Namun sering kali malah orang tua membelikan baru-baru yang tak menutup aurat dan membiarkan akan berinteraksi dengan lingkungan tanpa Batasan. Hal tersebut jelas akan menjadi penghambat tercapainya cita-cita yang dititipkan pada anak.

Akhirnya apa guna cita-cita tanpa laksana. Boleh kita banyak berilmu tapi tindakan pula yang mengubah dunia. Sedikit pikiran saya tentang cita-cita yang harus mempunyai manfaat untuk diri sendiri dan sekitarnya.

Related Posts
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di SDN Cipinang Besar Selatan 08 Pagi. Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment