“Nak, kamu belajar yang benar, dong. Kamu itu sudah kelas tiga SMP. Sebentar lagi ujian!”
Suara Ibu terdengar dari ruang tengah. Di depannya, seorang anak laki-laki berseragam sekolah duduk selonjoran di sofa. Matanya terpaku pada layar ponsel. Jempolnya bergerak lincah, sesekali mulutnya mengeluarkan suara yang sulit dibedakan antara sedang berkomunikasi dengan teman atau sedang bertengkar dengan musuh virtual.
“Iya, Bu,” jawabnya singkat.
Jawaban yang sudah sangat akrab di telinga Ibu. Dua kata sakti yang biasanya berhasil mengakhiri ceramah, tetapi tidak pernah menjamin bahwa nasihatnya benar-benar dilaksanakan.
Ibu kembali ke dapur. Sementara itu, sang anak kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Baginya, menyelamatkan tim dari kekalahan terasa jauh lebih mendesak daripada menyelamatkan nilai matematika yang sudah lama berada di ambang kehancuran.
Hari berganti hari. Peringatan Ibu terus berulang, tetapi ponsel tetap menjadi benda yang paling sulit dipisahkan dari tangannya.
Sampai akhirnya, hari pembagian hasil ujian tiba.
Ibu membuka lembar hasil belajar anaknya. Dahinya berkerut. Ia membolak-balik halaman, berharap ada keajaiban yang terselip di bagian belakang.
Sayangnya, tidak ada.
“Tuh, kan! Ibu bilang apa?” seru Ibu sambil menunjukkan lembar nilai itu. “Nilai kamu begini. Mau masuk SMA mana? Kalau begini terus, ya sudah, masuk pesantren saja!”
Anaknya mengangkat wajah. Kali ini, ponselnya benar-benar berhenti bergerak.
“Lho, kok pesantren, Bu? Aku enggak mau!”
“Terus kamu mau sekolah di mana? Nilai begini mau daftar sekolah favorit?”
“Aku itu pintar, Bu!”
Ibu terdiam sejenak. Bukan karena terkejut mendengar pengakuan itu, melainkan karena sudah terlalu sering mendengarnya.
“Pintar dari mana? Belajar saja susah disuruh!”
“Ya, makanya Ibu jangan cuma lihat nilai! Aku ini sebenarnya pintar. Coba Ibu tes aku di tempat les di Singapura. Aku yakin bisa. Aku sudah setara anak SMA, tahu!”
Kalimat terakhir diucapkan dengan nada tinggi, penuh keyakinan, dan sedikit emosi. Gaya bicara yang biasanya muncul ketika seseorang merasa dirinya paling benar, tetapi belum tentu mampu menjelaskan alasannya.
Ibu menatap anaknya lama-lama.
“Singapura?” gumamnya. “Nilai di sekolah saja begini, sekarang mau membuktikan diri di Singapura?”
Anaknya mengangguk mantap.
“Iya! Aku mau membuktikan kalau aku memang pintar!”
Ibu menghela napas. Ia kemudian mengambil ponselnya sendiri dan menelepon suaminya.
“Pak, ini anakmu, lho. Nilainya jelek, disuruh belajar susah, sekarang malah minta dites di Singapura. Katanya mau membuktikan kalau dia setara anak SMA.”
Di seberang telepon, Bapak terdengar santai.
“Ya sudah, kalau memang dia mau, dicoba saja.”
Ibu mengernyitkan dahi.
“Lho, kok malah dibolehin?”
“Daripada cuma berdebat di rumah. Kalau memang yakin, biarkan dia membuktikan.”
Ibu terdiam. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi suaminya sudah menutup percakapan dengan kalimat sederhana yang terdengar seperti keputusan rapat keluarga.
Beberapa waktu kemudian, berangkatlah anak itu untuk mengikuti tes di sebuah lembaga pendidikan di Singapura.
Ibu masih menyimpan keraguan. Baginya, keberangkatan itu terasa seperti membawa anak yang belum selesai mengerjakan pekerjaan rumah untuk mengikuti ujian akhir di tempat lain.
Namun, Bapak tampak tenang. Ia tidak banyak bertanya. Ia hanya menunggu hasilnya.
Dan ketika hasil tes keluar, sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Anak itu dinyatakan memiliki kemampuan akademik yang setara dengan jenjang SMA berdasarkan hasil asesmen lembaga tersebut.
Ibu membaca hasilnya berulang kali.
“Ini benar, Pak? Anak kita?”
Bapak mengangguk.
“Ya, itu hasil tesnya.”
Ibu menatap anaknya. Anak itu tersenyum lebar, seolah baru saja memenangkan pertandingan paling penting dalam hidupnya.
“Tuh, kan, Bu! Aku bilang juga apa! Aku memang pintar!”
Kini, tidak ada lagi wajah muram karena nilai ujian sekolah. Tidak ada lagi perdebatan tentang pesantren. Yang ada hanya rasa bangga karena keyakinannya seolah telah terbukti.
Beberapa hari kemudian, anak itu kembali membuat pengumuman.
“Pak, Bu, aku sudah memutuskan.”
“Apa lagi?” tanya Ibu, mulai waspada.
“Aku mau lanjut kuliah di Singapura saja. Biar keren. Sekalian membuktikan kalau aku memang bisa bersaing dengan orang luar negeri.”
Ibu memandang suaminya. Bapak memandang anaknya. Lalu, seperti sebelumnya, jawaban itu kembali keluar dengan enteng.
“Ya sudah.”
Selesai.
Tidak ada pertanyaan tentang jurusan yang ingin dipilih. Tidak ada diskusi mengenai kesiapan akademik, kemampuan belajar mandiri, biaya pendidikan, atau rencana masa depannya. Tidak pula ada pembicaraan tentang bagaimana ia akan memperbaiki kebiasaan belajar yang selama ini menjadi sumber persoalan.
Anak itu sudah punya keinginan. Bapak sudah memberi izin. Seolah-olah, selama seseorang berani bermimpi dan memiliki hasil tes yang mengesankan, semua persoalan lain akan mengikuti dengan sendirinya.
Malam itu, Ibu kembali melihat anaknya bermain ponsel.
“Memangnya kamu enggak mau belajar, Nak? Katanya mau kuliah di Singapura.”
Anaknya menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Tenang saja, Bu. Aku sudah terbukti pintar.”
Ibu hendak membalas, tetapi urung. Ia teringat hasil tes dari Singapura. Ia juga teringat nilai ujian sekolah anaknya.
Dua dokumen. Dua gambaran yang seolah bertolak belakang tentang anak yang sama.
Mungkin anaknya memang memiliki kemampuan yang tidak tercermin sepenuhnya dalam nilai sekolah. Mungkin pula ada sesuatu dalam kebiasaan belajarnya yang selama ini belum berhasil mereka pahami.
Namun, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran Ibu.
Kalau anaknya memang pintar, apakah itu berarti ia tidak perlu belajar?
Dan kalau orang tua selalu mengiyakan keinginan anak, apakah itu berarti mereka sudah mendukung masa depannya?
Atau justru mereka sedang membiarkan anaknya percaya bahwa keyakinan diri saja sudah cukup untuk menghadapi kehidupan?
Sebab, membesarkan anak bukan sekadar soal berani berkata “tidak”, tetapi juga bukan berarti selalu menjawab “ya”.
Ada kalanya anak perlu diberi kesempatan membuktikan kemampuannya. Ada kalanya orang tua perlu mempercayai potensi yang belum terlihat dari angka-angka di rapor.
Namun, anak juga perlu belajar bahwa kemampuan harus diiringi tanggung jawab, keinginan perlu disertai perencanaan, dan keberhasilan tidak membuat proses belajar menjadi tidak penting.
Nah, menurut Anda, di mana letak persoalan dalam keluarga ini?
Apakah pada anak yang terlalu percaya diri? Pada Ibu yang hanya berpatokan pada nilai sekolah? Atau pada Bapak yang terlalu mudah mengiyakan keinginan anak tanpa mengajak keluarga membicarakan konsekuensinya?
Silakan berkomentar. Kalau Anda menjadi orang tua dalam cerita ini, apa yang akan Anda lakukan?