uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

Ketika Ikan Sapu-Sapu Menguasai Sungai Jakarta

 

Di sebuah sore yang mendung di tepian sungai Jakarta, seorang anak bernama Raka duduk sambil memandangi air yang keruh. Dulu, kata kakeknya, sungai ini jernih. Ikan-ikan kecil berenang bebas, dan anak-anak bisa bermain tanpa rasa khawatir. Tapi sekarang, yang sering terlihat justru ikan berwarna gelap dengan mulut lebar yang menempel di dasar sungai—ikan sapu-sapu.


Raka pernah mencoba menangkapnya. Licin, keras, dan aneh bentuknya. “Itu ikan sapu-sapu,” kata seorang pemancing tua di dekatnya. “Bukan ikan asli sini. Dulu dilepas orang, sekarang malah jadi masalah.”


Cerita tentang ikan sapu-sapu ini memang tidak sederhana. Awalnya, ikan ini dipelihara di akuarium karena kemampuannya “membersihkan” lumut. Tapi ketika bosan atau tidak ingin merawatnya lagi, banyak orang melepasnya ke sungai. Tanpa disadari, keputusan kecil itu membawa dampak besar.


Ikan sapu-sapu berkembang sangat cepat. Mereka kuat, tahan terhadap air kotor, dan hampir tidak punya predator alami di sungai Jakarta. Akibatnya, populasi mereka meledak. Mereka memakan telur-telur ikan lain, merusak habitat, bahkan membuat ikan lokal semakin sulit bertahan hidup.


Pemancing tua itu melanjutkan ceritanya, “Dulu saya bisa dapat ikan nila, ikan mujair, bahkan gabus. Sekarang? Lebih sering dapat sapu-sapu. Sungai jadi tidak seimbang.”


Masalahnya bukan hanya soal jumlah. Ikan sapu-sapu juga menggali dasar sungai untuk membuat sarang. Hal ini bisa merusak struktur tanah di pinggir sungai, mempercepat erosi, dan memperparah kondisi sungai yang sudah rentan banjir.


Raka mulai mengerti. Sungai bukan sekadar aliran air, tapi rumah bagi banyak makhluk hidup. Ketika satu spesies mendominasi, keseimbangan itu runtuh.


Namun, harapan masih ada. Banyak komunitas di Jakarta mulai bergerak. Mereka mengedukasi masyarakat agar tidak melepas ikan peliharaan ke sungai. Ada juga program penangkapan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasinya. Bahkan, sebagian orang mencoba mengolahnya menjadi produk lain agar tidak terbuang sia-sia.


Sebelum pulang, Raka bertanya, “Kalau kita semua peduli, sungai bisa seperti dulu lagi nggak?”


Pemancing itu tersenyum kecil. “Mungkin tidak persis sama. Tapi bisa jadi lebih baik. Asal kita mau berubah.”


Dari tepi sungai itu, Raka belajar satu hal penting: menjaga lingkungan bukan tugas besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kadang, itu dimulai dari hal sederhana—seperti tidak membuang atau melepas sesuatu sembarangan ke alam.


Dan ikan sapu-sapu, yang dulu dianggap sepele, kini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan manusia selalu punya cerita panjang di belakangnya.


Related Posts
Newest Older
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di sekolah dasar Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment