uCO8uJcd2NOW77jAZ4AbbiNUmGHcS2tFraLMRoIi

Ketika Awan Disemprot, Sekolah Disapu



Guru yang Selalu Siap Apa Saja

Di Jakarta, hujan kadang tidak turun dari langit, tapi dari jadwal. Namanya rekayasa cuaca. Awan disemprot, langit diarahkan, dan akhirnya pemerintah memutuskan: demi keselamatan bersama, pembelajaran jarak jauh kembali diberlakukan. Murid bersorak kecil. Guru menarik napas panjang. Laptop dibuka. Google Meet disiapkan. Link sudah di-copy. Tinggal satu langkah terakhir: kirim ke grup WhatsApp.


Namun seperti semua kisah pendidikan di ibu kota, drama tidak pernah datang sendirian.


Di tengah suasana libur yang setengah libur dan kerja yang setengah kerja, tiba-tiba Ibu Kepala Dinas melakukan sidak ke sebuah sekolah. Sidak adalah singkatan tak resmi dari “silakan dadakan.” Hasilnya cepat, tegas, dan penuh cinta lingkungan: sekolah dinilai kurang bersih.


Pesan pun berantai. Semua kepala sekolah diminta memastikan sekolahnya bersih. Kepala sekolah lalu melakukan apa yang paling manusiawi dalam sistem pendidikan: meneruskan pesan itu kepada guru.


Maka pagi itu, di saat guru sudah menata materi, membuka slide, menyiapkan sapaan hangat untuk murid yang akan muncul dalam kotak-kotak kecil layar, datanglah pengumuman yang membumi: “Hari ini kita kerja bakti.”


Google Meet pun tetap ada. Tapi hanya sebagai ikon yang menatap kosong dari layar. Link tak jadi dikirim. Guru-guru turun bukan ke ruang virtual, melainkan ke ruang nyata: menyapu, mengepel, mengelap kaca, berdamai dengan debu yang lebih konsisten hadir daripada sinyal.


Anak-anak akhirnya tetap “belajar.” Tapi belajar mandiri. Mandiri dalam arti sebenarnya: membuka buku sendiri, memahami sendiri, dan kalau tidak paham, ya sudah, mungkin esok. PJJ hari itu berubah menjadi PJJ: Pembelajaran Jauh dari Jangkauan.


Ironisnya, bagi sebagian guru, momen PJJ seperti ini justru seharusnya menjadi panggung pembuktian. Apakah selama ini pembelajaran digital, literasi teknologi, bahkan gaung “coding untuk anak” benar-benar berdampak? Apakah murid kita siap belajar di ruang maya, bukan hanya untuk hiburan, tetapi untuk pemahaman?


Di luar sana, media sosial terus menyajikan apa saja: joget, prank, drama, dan potongan-potongan realitas yang kadang lebih cepat viral daripada video edukasi. Reaksi yang sering muncul pun klasik: larang. Tutup. Blokir. Ambil gawai.


Padahal dunia digital tidak sedang meminta dilarang. Ia sedang menunggu dilatih. Dilatih untuk disaring. Diajari untuk dipilih. Ditemani agar murid tahu mana yang sekadar lewat, mana yang layak menetap di kepala.


PJJ seharusnya bisa menjadi laboratorium hidup untuk itu. Tempat murid belajar bukan hanya matematika dan bahasa, tapi juga bagaimana menyalakan perangkat, masuk kelas virtual, berkomunikasi sopan di ruang digital, mengelola file, menyaring informasi, dan memahami bahwa teknologi bukan cuma panggung hiburan, melainkan alat peradaban.


Namun pagi itu, eksperimen besar itu kalah oleh sapu lidi.


Tidak ada yang salah dengan sekolah bersih. Tidak ada yang keliru dengan kerja bakti. Yang terasa ganjil adalah ketika di satu waktu, guru diminta menjadi aktor transformasi digital, tapi di waktu yang sama juga menjadi pasukan kebersihan darurat, sementara murid diminta “menyesuaikan.”


Satire ini tentu bukan tentang sidak, bukan pula tentang lantai yang berdebu. Ini tentang betapa seringnya pendidikan kita berdiri di persimpangan, lalu ragu memilih arah. Antara simbol dan substansi. Antara tampilan dan dampak. Antara menyapu yang terlihat dan mengajar yang membekas.


Dan ketika hujan hasil rekayasa turun dari langit, murid-murid mungkin belajar dari rumah. Tapi guru hari itu belajar hal lain: bahwa di dunia pendidikan, yang paling stabil bukanlah kebijakan, melainkan kemampuan guru untuk selalu siap—apa saja. Dari fasilitator digital, pendidik karakter, sampai petugas kebersihan dengan status darurat.


Google Meet boleh belum dibuka. Tapi realitas sudah lebih dulu mengajar.

Newest Older
Sugeng Riyanto
Aktif mengajar di SDN Cipinang Besar Selatan 08 Pagi. Purna PSP3 Kemenpora XXIV. Pernah menjadi sukarelawan UCFOS PK IMM FKIP UHAMKA. Kini tercatat sebagai salah satu guru penggerak angkatan 7. Penulis Buku "Pendidikan Tanpa Sekolah. Suka berpergian kealam bebas, Menulis berbagai jenis artikel.

Related Posts

Post a Comment